Oleh: Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.
Hujan dengan intensitas cukup tinggi yang terjadi pada 6 Maret 2026 di Kota Bandar Lampung berlangsung relatif lama dan merata di berbagai wilayah. Kondisi ini menyebabkan banjir di sejumlah titik kota, dengan air yang meluap tidak hanya dari sistem drainase perkotaan, tetapi juga dari sungai-sungai yang melintasi kawasan permukiman.
Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm serius bagi kita semua bahwa persoalan banjir di perkotaan bukan semata-mata disebabkan oleh hujan yang tinggi, tetapi juga oleh berbagai persoalan tata kelola lingkungan dan infrastruktur yang belum tertangani secara optimal.
Dari pengamatan di lapangan, air meluap dari berbagai sungai dan saluran drainase yang tidak mampu menampung aliran air hujan. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas sistem drainase kota saat ini sudah tidak lagi mampu mengimbangi besarnya limpasan air yang terjadi ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama.
Salah satu penyebab utamanya adalah banyaknya saluran drainase perkotaan yang tidak berfungsi dengan baik akibat kerusakan dan kurangnya pemeliharaan. Saluran yang seharusnya menjadi jalur utama aliran air justru mengalami penyumbatan, kerusakan struktur, bahkan sebagian sudah tertutup sedimentasi.
Selain itu, kondisi sungai sebagai saluran drainase alami juga mengalami perubahan morfologi yang cukup signifikan. Di beberapa lokasi, sungai mengalami penyempitan akibat pembangunan di sempadan sungai, sementara di lokasi lain terjadi pendangkalan akibat sedimentasi yang tidak pernah dinormalisasi secara berkala. Akibatnya, kapasitas tampung sungai semakin berkurang dan mudah meluap ketika terjadi hujan lebat.
Persoalan ini semakin diperparah oleh perubahan tutupan lahan di kawasan perkotaan. Perkembangan kota yang pesat menyebabkan banyak lahan terbuka dan daerah resapan air berubah menjadi kawasan terbangun seperti perumahan, pertokoan, maupun infrastruktur jalan. Permukaan yang kedap air ini membuat air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung menjadi limpasan permukaan dalam jumlah besar yang mengalir menuju drainase dan sungai.
Di sisi lain, persoalan sampah juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan, baik ke selokan maupun ke sungai. Ketika hujan turun, sampah tersebut terbawa aliran air dan menumpuk di saluran drainase serta jembatan sungai. Akibatnya aliran air menjadi terhambat dan mempercepat terjadinya genangan maupun banjir.
Banjir yang terjadi hari ini seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperbaiki sistem pengelolaan drainase dan lingkungan perkotaan.
Pertama, saluran drainase perkotaan perlu dijaga melalui pemeliharaan rutin dan perbaikan segera apabila terjadi kerusakan. Drainase yang baik bukan hanya dibangun, tetapi juga harus dirawat secara berkala agar tetap berfungsi optimal.
Kedua, normalisasi sungai perlu dilakukan terutama pada sungai-sungai yang kondisinya sudah kritis. Kegiatan seperti pengerukan sedimentasi, pelebaran penampang sungai di titik-titik tertentu, serta penataan kawasan sempadan sungai menjadi langkah penting untuk mengembalikan kapasitas sungai dalam mengalirkan air.
Ketiga, pengendalian perubahan tata guna lahan harus menjadi perhatian dalam perencanaan kota. Pembangunan yang terus berkembang harus tetap memperhatikan keberadaan ruang terbuka hijau dan daerah resapan air agar keseimbangan hidrologi perkotaan tetap terjaga.
Keempat, pengelolaan sampah perkotaan juga perlu ditata secara lebih baik. Pemerintah dapat memperkuat manajemen Tempat Pembuangan Sampah (TPS) agar lebih tertib dan terpadu sehingga mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Dengan sistem pengelolaan yang baik, masyarakat memiliki akses yang jelas untuk membuang sampah pada tempat yang semestinya.
Namun demikian, upaya pemerintah tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan masyarakat. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan serta menjaga lingkungan sekitar menjadi kunci penting dalam mengurangi risiko banjir di perkotaan.
Banjir yang terjadi hari ini hendaknya tidak hanya dipandang sebagai peristiwa musiman akibat hujan deras. Lebih dari itu, banjir adalah cerminan dari bagaimana kita mengelola kota, lingkungan, dan sumber daya air.
Jika perbaikan sistem drainase, normalisasi sungai, pengendalian tata ruang, serta pengelolaan sampah dapat dilakukan secara terpadu, maka risiko banjir di Kota Bandar Lampung di masa mendatang dapat ditekan. Kota yang aman dari banjir bukanlah sesuatu yang mustahil, selama ada komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaganya..
Tentang Penulis:
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen di Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA).
Ahli dalam bidang hidroogi Forensik dan Sumberdaya Air. Aktif dalam riset pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, serta edukasi kebencanaan di masyarakat.












